Monday, January 8, 2018

Bayi Terkena Alergi Biduran Atau Urtikaria

Saya mau share sedikit tentang hari dimana anak saya terserang biduran di sekitar area wajah dan matanya. Anak saya saat itu berusia 13 bulan. Pagi itu anak saya bangun seperti biasanya, sebelum shubuh dan sebelum semua penghuni rumah terbangun. Setelah puas minum ASI saya alihkan dia dalam pengawasan ayahnya karena saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Dedek jalan-jalan pagi di atas kereta bayi dengan di dorong ayah nya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan membuat bubur bayi saya menyuapi anak saya. Alhamdulillah makannya cukup lahap. Lalu saya tinggal menyiapkan peralatan buat mandi Si Kecil. Setelah semuanya siap, ternyata Dedek tengah rewel di atas kereta bayi. Si Ayah sedang memegangi kedua tangannya yang berusaha menngucek-ucek matanya. Saya mendekat dan melihat kondisi Si Kecil. Ada beberapa bentol seperti gigitan nyamuk di pipi, pelipis dan bawah matanya. Aku sedikit kesal sama suami, kok Dedek sampek di gigitin nyamuk segitu banyaknya.

Karena Dedek mulai menangis, akhirnya aku gendong dan aku kasih ASI. Dia nenen sambil masih mengusap-usap wajah dan matanya. Tiba-tiba muncul bentol di ujung matanya, dan bentol yang mulanya cuma beberapa semakin lama semakin banyak. Ibu ku curiga kalau Dedek terkena ulat bulu di taman depan rumah karena memang saat itu musim ulat bulu. Kalau aku lebih curiga Dedek terkena alergi biduran, seperti yang sudah saya alami bertahun-tahun lamanya. Ada kemungkinan dia mewarisi alergi itu dari saya. Karena saya mewarisinya dari Ibu, dan Ibu saya mewarisinya dari Nenek.

Tanpa pikir panjang dan sebelum semakin parah alerginya, Dedek aku kasih  minum cetirizine cair yang kebetulan tersedia di rumah. Aku kasih sepertiga sendok takar. Lebih sedikit dari yang diresepkan DSA yaitu setengah sendok takar. Alhamdulillah setelah ditunggu lima belas menitan, si urtikaria mulai mereda. Dedek tidak lagi mengusap-usap wajah dan matanya. Dan bentol bentol di wajahnya pun mulai hilang. Hanya saja sebelah matanya terlanjur bengkak lumayan besar.

Dua bulan setelah kejadian itu Dedek tidak pernah terkena biduran lagi. Semoga saja itu yang pertama dan terakhir. Saya sedih kalau sampai penyakit yang sudah turun menurun dari Nenek dan Ibu saya ini, menurun juga ke anak-anak saya. Kalaupun memang menurun, semoga tidak separah yang terjadi pada saya.

Oh ya, anda pasti berpikir kenapa saya punya persediaan obat cetirizine cair di rumah. Padahal ini pertama kali nya anak saya terserang urtikaria. Sebenarnya ceritanya begini. Pada saat anak saya berumur 8 bulan, anak saya pernah di diagnosis menderita TBC karena batuk yang tak kunjung sembuh. Hail tes mantoux nya antara positif dan negatif. Cuma di dalam keluarga saya tidak ada yang perokok. Dan anak saya, sepengetahuan saya tidak pernah kontak dengan penderita TB. Memang ada kemungkinan sesorang terjangkit TB tanpa ada nya kontak dengan penderita, karena kuman TB juga menyebar lewat udara, hanya saja insting saya sebagai seorang ibu saat itu yakin bahwa anak saya tidak sakit seserius itu.

Benar saja setelah serangkaian pemeriksaan oleh DSA serta menjalani beberapa tes di laboratorium, anak saya hanya diduga menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) karena kondisinya semakin membaik setelah meminum obat yang di resepkan. Tapi anak saya pilek nya tak kunjung sembuh juga. Sehari sampai tiga hari baikan, pilek lagi selama semingguan. Sembuh dua tiga hari, pilek lagi. Begitu terus, berulang sampai kalau tidak salah 5 kali. Akhirnya dokter menduga anak saya terkena alergi jadi beliau meresepkan obat antihistamin pada kunjungan saya hari itu, cetirizin cair dalam bentuk sirup.

Tapi saya pribadi saat itu sedikit ragu dengan diagnosis dokter. Obat alergi sementara tidak saya berikan, karena bulan-bulan itu memang penyakit batuk pilek sedang sepertinya sedang mewabah. Mungkin anak saya tertular virus yang lain saat sudah sembuh, karena kondisinya belum sepenuhnya fit ditambah nafsu makan yang jauh berkurang.

Dan Alhamdulillah anak saya memang hanya terjebak dalam putaran virus flu. Tanpa saya kasih antihistamin kesehatannya berangsur-angsur pulih. Itulah mengapa saya punya persediaan cetirizine cair di rumah.

Semoga sharing saya bermanfaat.


No comments:

Post a Comment