Saturday, January 6, 2018

Saya dan Biduran/Urtikaria

Saya menderita biduran/urtikaria sejak saya masih balita. Hingga hari ini biduran saya masih sering kambuh. Biduran yang saya alami bentuknya seperti bekas gigitan serangga yang bisa menyerang seluruh anggota tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Besar dan bentuk bentolan pun bervariasi, mulai dari diameter 0,5 centimeter sampai yang terbesar yang pernah terjadi pada saya adalah selebar punggung saya. Jadi kala itu punggung saya rasanya tebel banget dan sangat gatal. Bentuk bidurannya pun tak selalu bulat, kadang kayak pulau Bali, pulau Sumatra, kadang gede banget kayak benua Eropa. Kalau sudah menyerang yang namanya mata dan bibir, bengkaknya bisa tahan lebih dari 3 hari. Kalau sudah kambuh gitu, saya sering nya bolos sekolah. Jadi tiap bulan pasti ada absen gak masuk.

Biduran ini sensasi gatalnya sungguh istimewa dan ruarrrr biyasah. Apalagi kalau sudah menyerang sekujur tubuh, saya tak kuasa untuk tidak garuk-garuk, kadang sambil nyanyi lagu nya N*ff “Dosa apa yang telah kulakukan…”. Hehehehe.

Dulu waktu pertama kali terserang biduran, emak bapak saya yang memang orang ndeso, tidak membawa saya ke dokter. Menurut mereka ini adalah gatal yang disebabkan oleh serangga yang biasa hidup di tanah. Sampai sekarang saya juga gak ngerti serangga mana yang mereka maksud. Apa iya rayap tanah? Jadi yang di lakukan Emak Bapak saya kala itu, mereka malah membeli balsem lalu di oleskan ke sekujur tubuh saya. Sebagai anak kecil saya cuma bisa menangis menjerit menahan gatal dan panas. Untungnya dulu sewaktu saya kecil kambuhnya cuma sekali dua kali dalam sebulan. Kalau sekarang bisa setiap hari kambuh. Pernah selama 4 tahun saya kambuh biduran seminggu dua sampai tiga kali. Setelah itu selama 2 tahun gak kambuh sekalipun. Lalu kambuh lagi selama beberapa waktu, dan sembuh lagi dalam kurun waktu tertentu. Jadi biduran yang saya alami termasuk kambuhan.

Sampai saat ini saya tidak tahu alergi apa yang menyebabkan saya biduran. Ada dokter yang bilang, saya alergi makanan tertentu. Setelah di tes di laborat, saya tidak ada alergi sama makanan. Ke dokter yang satunya katanya alergi cuaca dingin, eh pas musim panas si biduran juga gak absen nongol. Tapi satu yang saya catet, tiap daya tahan tubuh saya menurun pasti si biduran kambuh. Dulu saya hidupnya di desa, jadi cuma mampu mengunjungi dokter umum. Dari dokter termurah sampai termahal se kecamatan sudah saya datengin. Obat nya belum ada yang cocok dengan saya. Kalau ke dokter yang bayarnya murah, biasanya diresepkan CTM. Gatal sembuh tapi mata gak bisa melek. Kalau ke dokter yang mahal obat nya banyak banget, tapi efeknya gak jauh beda sama CTM. So, ngapain kan saya pilih yang mahal kalau dapetnya sama saja.

Saat saya kelas 3 SMP, biduran saya kambuh tak terkendali.  Gatal dan bentol di sekujur tubuh menyerang tanpa ampun. Mata saya bengkak sampai hampir terpejam. Bibir saya menjadi 4 kali lebih besar dari ukuran normal. Bentol yang pertama belum hilang, muncul lagi bentol yang baru. Jadi bentol nya bertumpuk-tumpuk. Dan kejadiannya itu pas menjelang maghrib. Pas parah-parah nya tengah malam. Saya ingat pas saya ngaca, wajah saya seperti wanita korban penganiayaan, atau wanita yang gagal oplas. Ngeri pokoknya. Wajah asli saya hilang berganti wajah monster, beneran saya gak bohong. Keluarga dan para tetangga kaget dan sangat heran melihat saya. mereka berpikir kok bisa biduran sampai separah itu.

Pagi harinya saya ke praktek dokter umum lagi. Kali ini ganti dokter. Kebetulan dokter ini baru buka praktek di daerah saya. Biaya sekali periksa termasuk terjangkau. Dan Alhamdulillah obat nya lumayan manjur. Saya masih ingat merk obat nya sampai sekarang karena saya mengkonsumsi obat ini sampai saya lulus SMA. Jadi kalau biduran saya kambuh, saya tidak pergi ke dokter lagi. Saya cukup membeli obatnya di apotek. Dan obat nya pun harganya murah karena termasuk obat generik. Nama obat nya adalah ‘mulacort’ dan ‘pronicy’. Di minum saat kambuh saja. Cukup 1 tablet per obat.

Setelah lulus SMA dan kenal internet, saya browsing soal penyakit serta obat yang saya konsumsi selama ini. Ternyata mulacort termasuk obat keras yang tidak di anjurkan untuk pengobatan jangka panjang. Gak hanya mulacort saja ya. Semua obat kimia harusnya memang tidak untuk penggunaan jangka panjang karena tidak baik untuk hati dan ginjal.

Akhirnya setelah browsing sana sini saya memutuskan untuk mencoba loratadin dan cetirizin sebagai alternatif obat saat kambuh. Dari ke dua nya menurut saya, cetirizin lebih cepat menyembuhkan urtikaria serta mencegah kekambuhan lebih lama. Kalau loratadin agak lambat menghilangkan biduran dan jangka kambuhnya lebih cepat. Jadi aku lebih pilih cetirizin. Sekarang saya cukup meminum setengah tablet cetirizin yang 10 mg tiap kali kambuh. Jadi saya selalu beli cetirizin yang bentuk nya tablet agar bisa di bagi dua bukan yang kapsul. Obat ini ada di kamar saya, di ruang makan dan di dalam tas kerja saya. Saya sebar di beberapa tempat berbeda supaya saya bisa segera minum obat saat ada tanda-tanda biduran mulai kambuh. Karena kalau tidak segera di obati, si bidur bisa segera menyerang area mata, bibir dan telapak kaki serta telapak tangan. Kalau menyerang di 4 area itu, bisa sedikit mengganggu aktifitas saya.

Waduh, konsumsi obat kimia bertahun-tahun apa gak takut efek negatifnya? Gak pengen cari pengobatan yang alami saja kah? Pastinya saya takut dan khawatir. Saya sudah mencoba beberapa obat herbal tapi belum ada yang ngaruh. Saya pernah minum obat yang namanya ‘pahitan’. Warna nya hitam dan rasanya beneran paaaaahit banget. Sebulan saya di cekoki Emak saya dengan ramuan ini, dan gak ngaruh sama sekali. Lagian saya minum obat cetirizin cuma saat kambuh saja. Dan jarang sekali kambuh tiap hari, hanya terkadang saja.

Di dalam keluarga saya yang menderita urtikaria selain saya adalah, ibu kandung saya, nenek dari ibu saya, dan 3 dari 6 saudara saya. Jadi saya 6 bersaudara dan 4 dari kami pernah menderita urtikaria. Cuma yang mengalami urtikaria paling parah adalah saya. Dan sedih nya anak lelaki saya juga pernah mengalami urtikaria saat berumur 11 bulan. Tiba-tiba wajah dan matanya bentol-bentol merah dengan jumlah yang sangat banyak hanya dalam waktu sekejap saja. Jadi urtikaria ini kalau menurut saya seperti penyakit yang turun-temurun. Tapi yang saya heran, Ibu saya 8 bersaudara dan yang menderita urtikaria hanya keluarga saya saja. Mungkin nenek saya hanya menurunkannya ke Ibu saya saja, dan karena memang gemar berbagi Ibu saya menurunkannya kepada beberapa anak nya. Terimakasih Ibu… hehehehe.

Dan percaya gak percaya, saat menulis artikel ini, mata saya bentol sebelah. Jadi yang satunya lebar, yang satu nya bengkak besar banget. Keasyikan nulis dan menunda minum obat saat urtikaria mulai muncul. Bagi anda yang sekarang sedang menderita biduran/urtikaria, semoga segeradi beri kesembuhan. Aamiiin.


Sekian sharing pengalaman saya, semoga bermanfaat.

3 comments:

  1. Sudah sembuh belum gan? Saya juga alamai kaya agan.. Sudah hampit satu tahun ini ga kunjun sembuh..

    ReplyDelete
  2. Dan saya yang baca artikel ini,mata saya sedang bengkak satu wkwk

    ReplyDelete