Setelah anak pertama saya berumur 6 bulan, atas desakan bidan
puskesmas dan ibu mertua, saya akhirnya memutuskan untuk ikut program KB. Sebenarnya
saya belum ingin ber KB karena takut efek negatifnya, apalagi kalau sampai
tidak cocok. Disamping itu, pengetahuan saya soal KB masih sedikit. Saya takut
salah pilih metode KB. Tapi karena terus mendapatkan desakan dari ibu mertua
dan bidan puskesmas akhirnya saya dengan berat hati memutuskan untuk mencoba. Saya
juga kasihan pada suami, puasa terus sejak saya lahiran.
Pertama kali yang ditawarkan Bu Bidan adalah KB IUD (spiral).
Tapi setelah diperiksa ternyata saya tidak cocok KB IUD. Alhamdulillah, saya
lega. Walau pengen nyoba, karena banyak yang bilang KB jenis ini paling aman
dan mudah. Gak perlu minum pil setiap hari. Gak perlu bolak-balik suntik tapi
dalam hati saya masih takut. Aneh aja ada sesuatu di dalam organ kewanitaan
kita.
Yang kedua ditawarin KB susuk. Saya langsung menolak. Saya gak
mau kalau pakek di sayat segala. Akhirnya saya memilih KB suntik yang 3 bulan. Denger-denger
sih KB suntik yang 1 bulan lebih bagus (dalam artian lebih banyak yang cocok)
dari pada KB suntik yang 3 bulan. Tapi karena saya menyusui, jadi mau gak mau
ya pilih suntik yang 3 bulanan. Kalau KB pil saya ogah karena saya orang nya
pelupa, dan kayak nya ribet banget tiap hari harus minum pil.
Sebelum suntik, saya di suruh timbang berta badan dulu sama
bidannya. Kata Bu Bidan untuk memantau berat badan pasca KB. Karena kebanyakan
efek dari KB jenis ini adalah penambahan berat badan yang drastis serta
gangguan menstruasi.
Dan penderitaan saya pun dimulai. Pasca KB saya sering
mengeluh sakit kepala dan migrain. Dan parahnya, siklus menstruasi saya jadi
tidak teratur. Sejak mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya sampai saya
dinyatakan hamil, ini kali pertama saya mengalami mens diluar jadwal. Ketika saya
mengadu ke Bu Bidan yang menyuntik saya bahwa sudah sebulan saya mens dan belum
berhenti, dengan enteng nya dia menjawab kalau itu resiko KB hormonal dan tidak
memberikan saya jalan keluar apapun.
Saya kesal dan merasa tertipu. Saya tunggu selama 2 bulan,
mens masih berlanjut. Mungkin harus nunggu 3 bulanan lebih sampai efek suntik 3
bulannya habis, begitu pikir saya. Akhirnya setelah menunggu selama 6 bulanan,
saya mulai lelah. Tidak ada tanda-tanda mens saya bakal berhenti. Niat nya
pengen bahagiain suami malah jadinya kayak begini.
Di antar suami, saya memeriksakan diri ke dokter kandungan di
Kota saya. Dokter nya geleng-geleng kepala setelah mendengar keluhan saya. “Ibu
gak sekalian nunggu sampai setahun?” saya cuma meringis mendengar pertanyaan
sekaligus sindiran dari Pak Dokter. Setelah
di USG, alhamdulillah rahim saya normal dan baik-baik saja. Tidak ada benjolan
ataupun kista. Dokter menduga tubuh saya mengalami ketidakseimbangan hormon. Saya
pun di kasih resep obat penghenti pendarahan serta pil KB untuk menyeimbangkan hormon.
Tiap kali saya minum obat, mens saya berhenti. Tapi setelah obat nya habis,
mens saya datang lagi. Terus seperti itu. Hampir sebulanan lebih saya terapi
menyeimbangkan hormon, tapi tak ada perubahan sedikitpun.
Saya sedikit putus asa. Tidak ke dokter untuk kontrol lagi,
tidak pula minum obat. Saya biarkan mens saya berlanjut seperti dulu. Sampai akhirnya
ibu mertua saya menyuruh saya minum jamu jawa yang rasanya pahit. Ibu mertua
saya yang meracik dan merebus obat itu. Beliau bilang kalau itu ramuan jamu
yang disarankan nenek saya. Saya minum ramuan itu selama 4 hari tanpa banyak tanya.
Sembuh ya syukur, belum sembuh ya sabar. Dan benar apa kata pepatah, saat anda
mulai putus asa sebenarnya kesuksesan sudah sangat dekat. Bener gak sih ada
pepatah kayak gitu? Apa karangan saya aja? Hehehehe. Cara bikin ramuannya bisa dilihat di sini.
Sehari setelah minum ramuan itu, darah haid masih keluar banyak seperti har-hari biasanya. Hari kedua darah haid sudah mulai berkurang. Hari ketiga sudah
agak berhenti, tapi kadang masih nge flek merah, kadang coklat tua. Hari ke
empat masih ada flek coklat muda. Besok nya bangun tidur sudah tidak ada flek
lagi. Beneran sudah bersih. Hari ke lima aku stop minum ramuan. Aku seneng sih,
tapi tetep ragu. Jangan-jangan jamu ini sama kayak obat yang aku dapat dari
dokter, cuma berhentiin darah haid sementara. Ternyata dugaan saya salah. Menstruasi saya
langsung teratur setiap bulannya seperti sebelum saya menikah. Alhamdulilah,
terimakasih ya Allah. Allah memberikan penyakit pada hambanya, pasti ada obat
nya. Terus berusaha jangan pernah berputus asa. ☺☺☺
No comments:
Post a Comment