Friday, January 12, 2018

Pengalaman Saya Terkena TBC Kelenjar

Sudah hampir sebulan kepala saya sakit tak tertahankan. Rasanya berat sekali. Sebulan ini saya jarang beraktifitas, lebih banyak istirahat dan tidur. Saya tidak pernah minum obat apapun saat sakit kepala. Kecuali kalau saya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit nya. Menurut saya sakit kepala akan sembuh kalau kita mampu mengatasi penyebabnya.

Setelah sebulan lama nya, sakit di kepala saya mulai menjalar ke bagian leher, tengkuk dan pundak. Rasanya berat, nyeri dan pegal. Tiap hari suami saya tidak pernah absen memijit tengkuk, leher dan kepala saya. Kadang juga saya pijit-pijit sendiri. Lega rasanya saat dipijit, tapi setelah selesai malah bekas bagian yang dipijit terasa sakit. ‘Njarem’ kalau istilah Jawanya.

Beberapa hari kemudian leher saya tidak bisa digerakkan sama sekali. Aktifitas saya semakin terbatas. Ibu saya bilang mungkin posisi tidur saya salah. Tapi posisi tidur saya seperti biasanya. Kalau suami saya bilang, mungkin saya kurang olahraga. Masuk akal sih, tapi walaupun kurang olahraga, saya banyak banget lho geraknya. Sehari bisa naik turun tangga lebih dari 10 kali. Karena memang kamar tidur saya ada di atas, dan kamar mandi cuma ada satu di bawah. Jadi saya sering sekali naik turun tangga. Tiap pagi juga sering ajakin si Dedek jalan-jalan sambil dorong kereta bayi. Kadang bersepeda juga. Apa iya masih kurang geraknya. Ya gak pa pa deh, saya tampung masukan Pak Suami.

Akhirnya sejak itu, tiap pagi sebelum matahari terbit saya sempatkan jogging dan olahraga ringan selama kurang lebih setengah jam. Terutama sekali saya melatih gerakan leher menghadap ke kanan, kiri, atas dan belakang. Lalu saya putar ke arah kiri dan kanan. Hari pertama ampun deh rasanya, kaku dan sakit banget. Rasanya pengen nangis.

Selain rutin buat gerakan leher, saya juga rutin kasih balsam atau counterpain ke leher dan bahu saya. Kadang saya kasih koyo cabe. Entah berapa koyo yang sudah saya habiskan, tapi gak ada pengaruh sedikitpun ke leher saya. Besoknya saya memutuskan pergi ke tukan pijat. Mungkin ada yang salah dengan otot leher dan bahu saya. Nah, disini nih baru ketahuan kalau ternyata di leher sebelah kanan saya sudah ada benjolan sebesar jempol tangan saya. Padahal kemaren kemaren saat suami dan saya sendiri yang mijit, tidak ada benjolan kok. Apa iya baru muncul beberapa hari ini?

Semenjak itu saya suka meraba tuh benjolan sambil berpikir apa hubungan nya si benjolan dengan sakit di leher saya. Saya juga sering browsing terkait benjolan di leher, tapi kok ya gak pernah nemu artikel yang berhubungan dengan TB kelenjar. Bukannya tidak ada, hanya mungkin kata kunci yang saya masukkan di google pencarian tidak mengarahkan saya ke penyakit ini. Kebanyakan malah artikel soal kanker kelenjar getah bening yang bikin parno. Itulah perlunya Dokter untuk setiap keluhan kesehatan yang kita punya, karena memang merekalah yang paling tahu dalam masalah ini.

Beberapa hari berikutnya si benjolan makin besar. Tubuh saya juga rasanya lain dari biasanya, seperti tidak enak badan. Tenggorokan juga sakit saat itu, leher apalagi, makin hari makin kaku dan susah di gerakkan. Saat itu saya mikirnya mungkin ini pembesaran kelenjar getah bening karena saya sedang terjangkit radang tenggorokan. Tapi seumur hidup berkali-kali terkena radang tenggorokan dan flu parah, kok ya baru kali ini pakek benjol segala.

Suami saya mulai panik saat melihat benjolan di leher saya semakin membesar. Dia terus mendesak agar saya segera memeriksakan diri. Aku tetap kekeh kalau aku cuma sakit ringan, nanti juga benjolannya mengecil sendiri,dan sakit di leher akan hilang dengan sendirinya. Setelah radang tenggorokan saya membaik, benjolan di leher saya tak kunjung mengecil. Saya tetap tenang, mungkin setelah demam saya dan kondisi saya benar-benar fit benjolan nya akan segera mengecil. Bukannya tambah mengecil, benjolan di leher saya semakin membesar dan bertambah lagi satu benjolan di belakang kepala bagian bawah. Saya mulai panik dan menuruti suami untuk segera berobat.

Besoknya saya berobat ke puskesmas tujuan yang tertulis di kartu BPJS saya. Setelah mengambil nomer antrian dan daftar di loket, saya mendapat nomer antrian lagi untuk digunakan di Poli Umum. Saat giliran saya di panggil, saya masuk, lalu duduk dan menceritakan keluhan saya. Dokter melihat dan meraba benjolan saya, lalu memeriksa tensi darah saya. Tekanan darah saya saat itu rendah, karena beberapa hari memang kondisi tubu8h saya kurang fit. Dokter lalu meresapkan obat dan menyuruh saya kembali setelah obat habis, apabila benjolan di leher saya tidak kunjung mengecil.

Saya dikasih obat sebanyak 6 biji, yang setelah saya amati ternyata obat jenis antibiotik. Obat nya di minum sehari 2 kali. Saya periksa hari Jumat, jadi hari Minggu obat sudah habis. Hari Senin saya balik lagi ke Puskesmas karena benjolan di leher saya tidak mengecil sama sekali dan leher saya masih terasa sakit dan kaku, ditambah benjolannya terasa nyeri saat di tekan.

Setelah melakukan pendaftaran melalui loket dan bertemu dokter umum saya di tanya lagi keluhan saya apa. Saya menceritakan keluhan saya dari awal dan bilang kalau ini ke dua kalinya saya berkunjung ke Puskesmas, karena yang menangani saya hari itu bukan dokter yang sama yang meresepkan antibiotik kala itu. Setelah mendengarkan keluhan saya, dokter segera menyuruh saya ke poli lansia untuk minta rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih besar yaitu RSUD. Kok ke Poli Lansia? Iya, kebetulan di Puskesmas ini ruangan khusus untuk mengurus rujukan jadi satu dengan Poli Lansia. Ini bukan kali pertama saya dirujuk ke RSUD, jadi saya sudah paham apa yang harus dilakukan.

Hari itu juga saya langsung meluncur ke RSUD. Setelah parkir sepeda motor, saya ambil nomer antrian khusus pasien BPJS di meja security. Hari itu saya dapat nomer antrian sekitar 180 an. Saya di rujuk di Poli Bedah. Setelah urusan di loket selesai, saya menunggu di kursi tunggu di depan Poli Bedah. Setelah lama mengantri, akhirnya giliran saya di periksa. Dokternya masih cukup muda, sopan dan sangat ramah. Beliau memperkenalkan diri sebelum melakukan pemeriksaan. Beliau bertanya tentang keluhan saya. Dokter lalu memeriksa benjolan di leher dan kepala saya di bantu seorang Asisten Dokter wanita.

Beliau juga menceritakan sedikit tentang kemungkinan benjolan yang ada di leher dan belakang kepala saya. Kalaupun nanti diperlukan tindakan pengangkatan benjolan, beliau menyarankan agar diangkat saat benjolan nya sedikit agak besar ukurannya. Saya mengangguk-angguk sambil menelan ludah. Saya membayangkan gimana nanti kalau dilakukan tindakan pembedahan. Saya sedikit parno dengan alat-alat medis. Apalagi membayangkan pisau bedah. Fuuuuhhhhh…

Dokter menjelaskan lagi, kalau tidak semua benjolan memerlukan tindakan pengangkatan atau bedah. Tergantung hasil pemeriksaan setelah di lakukan tes di laborat. Pemeriksaan benjolan ini namanya ‘biopsi’. Akhirnya saya dikasih rujukan untuk melakukan biopsi di ruang ‘Patologi Anatomi’.
Setelah melakukan pendaftaran di loket laboratoruim, saya harus menunggu lagi. Karena ternyata dokternya belum datang. Setelah satu jam menunggu akhirnya doktenya datang juga, seorang wanita paruh baya. Kata pasien yang lain, saya cukup beruntung karena beberapa pasien sudah mengantre sejak hari Jumat, dan baru hari ini dokternya hadir.Bu Dokter ini denger-denger memang satu-satunya dokter ahli patologi anatomi khusus yang menangani masalah benjolan, kista, tumor dan kanker di kota saya. Selain dinas di RSUD tempat saya melakukan pengobatan saat itu, beliau juga terkadang harus dinas keluar kota dan buka praktek sendiri di rumah.

Setelah beberapa pasien di biopsi kini giliran saya. Setelah masuk, saya langsung disuruh berbaring miring ke kiri, karena letak benjolan saya di leher sebelah kanan. Setelah membaca basmalah, Dokter menyuntikkan jarum dan menyedot cairan di benjolan saya. Suntikan yang digunakan lebih besar ukurannya dari jarum suntik. Benjolan di leher saya mendapat 3 suntikan, dan di kepala saya sekali suntikan. Tapi yang nano nano banget rasanya itu adalah suntikan di kepala. Kereeen banget rasanya. Hiks hiks hiks.

Setelah selesai saya masih harus menunggu lagi untuk mengetahui hasil biopsi. Setelah menunggu selama lebih dari setengah jam, perawat yang membantu para pasien dalam pengambilan sampel biopsi mengumumkan kalau hasil biopsi akan di beritahukan dan di jelaskan oleh Dokter yang menangani kita di Poli masing-masing. Ada yang di suruh kembali hari Selasa, ada yang di suruh kembali hari Rabu. Kebetulan saya di suruh balik ke Poli Bedah pas hari Rabu. Saya pun pulang dari RSUD.

Sejak pulang dari Rumah Sakit, saya kepikiran terus dengan benjolan di leher saya. Apalagi setelah di biopsi benjolan semakin membengkak dan meninggalkan rasa nyeri. Kira-kira saya kena penyakit apa. Berbahaya atau tidak. Saya sampai tidak semangat ngapa-ngapain sejak itu. Apa mungkin saya kena tumor atau kanker. Aish, pikiran saya kacau banget.

Hari rabu telah tiba. Selepas shubuh sekitar jam lima pagi saya sudah antri di loket RSUD. Jam tujuh lebih seperempat saya sudah antri di depan Poli Bedah. Dan baru sekitar jam setengah sepuluh saya dipanggil masuk. Di dalam poli bedah saya harus menunggu lagi. Saya rasanya pengen cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Saya gak tahan mendengar seorang bayi yang terus terusan menangis. Pas masuk tadi aku lihat tangan nya di perban, usianya baru 4 bulan. Ada juga anak kecil yang teriak-teriak di atas kursi roda. Seorang ibu yang ditawarin di bedah di jari tangannya untuk mengambil benjolan, namun tanpa obat bius, karena obat bius spray nya lagi kosong.  dan beberapa pasien lainnya dengan perban masing-masing. Saya sepertinya sudah tidak kuat kalau harus menunggu lebih lama lagi.

Akhirnya nama saya di panggil juga. Saya segera masuk menghadap Dokter. Dokter dan Asisten yang sama yang dulu memeriksa saya. Setelah dipersilahkan duduk, dokter langsung memberitahu saya hasil tes biopsi dan mengabarkan kalau saya akan di rujuk ke Poli Paru. Hah? Poli Paru? Saya kan gak batuk atau sesak nafas. Lagian apa hubungannya benjolan di leher dengan poli paru. Dokter menangkap kebingungan saya dan menjelaskan kalau benjolan di leher dan kepala saya di sebabkan oleh bakteri TBC. Jadi saya harus di rujuk ke Poli Paru untuk mendapatkan pengobatan TBC kelenjar.

Perasaan saya saat itu, senang karena saya tidak harus bertemu dengan jarum, benang jahit, pisau bedah ataupun perban. Syok, karena saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya mengidap TBC dan bakal terapi obat TB selama berbulan-bulan. Dokter kembali bertanya apakah saya ingin menyakan sesuatu karena saya hanya diam saja dan terlihat syok dengan hasil biopsi. Saya menggelengkan kepala, dan meminta dokter melakukan yang seharusnya dilakukan. Dokter juga memberi saran agar saya segera memulai terapi obat, sebelum kuman TB nya menyebar ke organ lain di dalam tubuh.


Oke segitu saja pengalaman saya ketika di vonis terkena TBC kelenjar. Saya akan posting lagi pengalaman saya selama menjalani pengobatan TB. Semoga bermanfaat.

6 comments:

  1. Hai mba,skrg bagaimana kbrmu?bisa sharing ga?aku pun penderita tb kelenjar..hr ini sdh msk bln ke 15 aku minum oat..tp kadang badanku suka terasa pegal,terutama di pangkal paha dan telapak kaki..no.tlpku 087880808102 (via WA)..makasi bnyk mb

    ReplyDelete
  2. halo mbak tolong di buka notif blog nya

    ReplyDelete
  3. hai mba,, klo sekarang keadaanya gimana mba stelah menjalani pengobatan tb ? krna sya juga sedang terapi obat tb

    ReplyDelete
  4. Hi semua, maaf jarang buka blog. Saya Alhamdulillah sudah sembuh TB kelenjarnya. Pengobatan selama 6 bulan.

    ReplyDelete
  5. Mbak... selama pengobatan 6 bulan obat yg merah diminum berapa bulan..? Dan obat yg kuningnya apa diminum setiap hari atau 1 minggu hanya 3 kali..?

    ReplyDelete