Sudah hampir sebulan kepala saya sakit tak tertahankan. Rasanya
berat sekali. Sebulan ini saya jarang beraktifitas, lebih banyak istirahat dan
tidur. Saya tidak pernah minum obat apapun saat sakit kepala. Kecuali kalau
saya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit nya. Menurut saya sakit kepala akan
sembuh kalau kita mampu mengatasi penyebabnya.
Setelah sebulan lama nya, sakit di kepala saya mulai
menjalar ke bagian leher, tengkuk dan pundak. Rasanya berat, nyeri dan pegal. Tiap
hari suami saya tidak pernah absen memijit tengkuk, leher dan kepala saya. Kadang
juga saya pijit-pijit sendiri. Lega rasanya saat dipijit, tapi setelah selesai
malah bekas bagian yang dipijit terasa sakit. ‘Njarem’ kalau istilah Jawanya.
Beberapa hari kemudian leher saya tidak bisa digerakkan sama
sekali. Aktifitas saya semakin terbatas. Ibu saya bilang mungkin posisi tidur
saya salah. Tapi posisi tidur saya seperti biasanya. Kalau suami saya bilang,
mungkin saya kurang olahraga. Masuk akal sih, tapi walaupun kurang olahraga,
saya banyak banget lho geraknya. Sehari bisa naik turun tangga lebih dari 10
kali. Karena memang kamar tidur saya ada di atas, dan kamar mandi cuma ada satu
di bawah. Jadi saya sering sekali naik turun tangga. Tiap pagi juga sering
ajakin si Dedek jalan-jalan sambil dorong kereta bayi. Kadang bersepeda juga. Apa
iya masih kurang geraknya. Ya gak pa pa deh, saya tampung masukan Pak Suami.
Akhirnya sejak itu, tiap pagi sebelum matahari terbit saya
sempatkan jogging dan olahraga ringan selama kurang lebih setengah jam. Terutama
sekali saya melatih gerakan leher menghadap ke kanan, kiri, atas dan belakang. Lalu
saya putar ke arah kiri dan kanan. Hari pertama ampun deh rasanya, kaku dan
sakit banget. Rasanya pengen nangis.
Selain rutin buat gerakan leher, saya juga rutin kasih balsam
atau counterpain ke leher dan bahu saya. Kadang saya kasih koyo cabe. Entah berapa
koyo yang sudah saya habiskan, tapi gak ada pengaruh sedikitpun ke leher saya. Besoknya
saya memutuskan pergi ke tukan pijat. Mungkin ada yang salah dengan otot leher
dan bahu saya. Nah, disini nih baru ketahuan kalau ternyata di leher sebelah
kanan saya sudah ada benjolan sebesar jempol tangan saya. Padahal kemaren
kemaren saat suami dan saya sendiri yang mijit, tidak ada benjolan kok. Apa iya
baru muncul beberapa hari ini?
Semenjak itu saya suka meraba tuh benjolan sambil berpikir
apa hubungan nya si benjolan dengan sakit di leher saya. Saya juga sering
browsing terkait benjolan di leher, tapi kok ya gak pernah nemu artikel yang
berhubungan dengan TB kelenjar. Bukannya tidak ada, hanya mungkin kata kunci
yang saya masukkan di google pencarian tidak mengarahkan saya ke penyakit ini. Kebanyakan
malah artikel soal kanker kelenjar getah bening yang bikin parno. Itulah perlunya
Dokter untuk setiap keluhan kesehatan yang kita punya, karena memang merekalah
yang paling tahu dalam masalah ini.
Beberapa hari berikutnya si benjolan makin besar. Tubuh saya
juga rasanya lain dari biasanya, seperti tidak enak badan. Tenggorokan juga sakit
saat itu, leher apalagi, makin hari makin kaku dan susah di gerakkan. Saat itu
saya mikirnya mungkin ini pembesaran kelenjar getah bening karena saya sedang
terjangkit radang tenggorokan. Tapi seumur hidup berkali-kali terkena radang
tenggorokan dan flu parah, kok ya baru kali ini pakek benjol segala.
Suami saya mulai panik saat melihat benjolan di leher saya
semakin membesar. Dia terus mendesak agar saya segera memeriksakan diri. Aku tetap
kekeh kalau aku cuma sakit ringan, nanti juga benjolannya mengecil sendiri,dan
sakit di leher akan hilang dengan sendirinya. Setelah radang tenggorokan saya
membaik, benjolan di leher saya tak kunjung mengecil. Saya tetap tenang, mungkin
setelah demam saya dan kondisi saya benar-benar fit benjolan nya akan segera
mengecil. Bukannya tambah mengecil, benjolan di leher saya semakin membesar dan
bertambah lagi satu benjolan di belakang kepala bagian bawah. Saya mulai panik
dan menuruti suami untuk segera berobat.
Besoknya saya berobat ke puskesmas tujuan yang tertulis di
kartu BPJS saya. Setelah mengambil nomer antrian dan daftar di loket, saya
mendapat nomer antrian lagi untuk digunakan di Poli Umum. Saat giliran saya di
panggil, saya masuk, lalu duduk dan menceritakan keluhan saya. Dokter melihat
dan meraba benjolan saya, lalu memeriksa tensi darah saya. Tekanan darah saya
saat itu rendah, karena beberapa hari memang kondisi tubu8h saya kurang fit. Dokter
lalu meresapkan obat dan menyuruh saya kembali setelah obat habis, apabila
benjolan di leher saya tidak kunjung mengecil.
Saya dikasih obat sebanyak 6 biji, yang setelah saya amati
ternyata obat jenis antibiotik. Obat nya di minum sehari 2 kali. Saya periksa
hari Jumat, jadi hari Minggu obat sudah habis. Hari Senin saya balik lagi ke
Puskesmas karena benjolan di leher saya tidak mengecil sama sekali dan leher
saya masih terasa sakit dan kaku, ditambah benjolannya terasa nyeri saat di
tekan.
Setelah melakukan pendaftaran melalui loket dan bertemu
dokter umum saya di tanya lagi keluhan saya apa. Saya menceritakan keluhan saya
dari awal dan bilang kalau ini ke dua kalinya saya berkunjung ke Puskesmas,
karena yang menangani saya hari itu bukan dokter yang sama yang meresepkan antibiotik
kala itu. Setelah mendengarkan keluhan saya, dokter segera menyuruh saya ke
poli lansia untuk minta rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih besar yaitu
RSUD. Kok ke Poli Lansia? Iya, kebetulan di Puskesmas ini ruangan khusus untuk
mengurus rujukan jadi satu dengan Poli Lansia. Ini bukan kali pertama saya
dirujuk ke RSUD, jadi saya sudah paham apa yang harus dilakukan.
Hari itu juga saya langsung meluncur ke RSUD. Setelah parkir
sepeda motor, saya ambil nomer antrian khusus pasien BPJS di meja security. Hari
itu saya dapat nomer antrian sekitar 180 an. Saya di rujuk di Poli Bedah. Setelah
urusan di loket selesai, saya menunggu di kursi tunggu di depan Poli Bedah. Setelah
lama mengantri, akhirnya giliran saya di periksa. Dokternya masih cukup muda,
sopan dan sangat ramah. Beliau memperkenalkan diri sebelum melakukan
pemeriksaan. Beliau bertanya tentang keluhan saya. Dokter lalu memeriksa
benjolan di leher dan kepala saya di bantu seorang Asisten Dokter wanita.
Beliau juga menceritakan sedikit tentang kemungkinan
benjolan yang ada di leher dan belakang kepala saya. Kalaupun nanti diperlukan
tindakan pengangkatan benjolan, beliau menyarankan agar diangkat saat benjolan
nya sedikit agak besar ukurannya. Saya mengangguk-angguk sambil menelan ludah. Saya
membayangkan gimana nanti kalau dilakukan tindakan pembedahan. Saya sedikit
parno dengan alat-alat medis. Apalagi membayangkan pisau bedah. Fuuuuhhhhh…
Dokter menjelaskan lagi, kalau tidak semua benjolan
memerlukan tindakan pengangkatan atau bedah. Tergantung hasil pemeriksaan setelah
di lakukan tes di laborat. Pemeriksaan benjolan ini namanya ‘biopsi’. Akhirnya saya dikasih rujukan
untuk melakukan biopsi di ruang ‘Patologi Anatomi’.
Setelah melakukan pendaftaran di loket laboratoruim, saya
harus menunggu lagi. Karena ternyata dokternya belum datang. Setelah satu jam
menunggu akhirnya doktenya datang juga, seorang wanita paruh baya. Kata pasien
yang lain, saya cukup beruntung karena beberapa pasien sudah mengantre sejak
hari Jumat, dan baru hari ini dokternya hadir.Bu Dokter ini denger-denger memang
satu-satunya dokter ahli patologi anatomi khusus yang menangani masalah
benjolan, kista, tumor dan kanker di kota saya. Selain dinas di RSUD tempat
saya melakukan pengobatan saat itu, beliau juga terkadang harus dinas keluar
kota dan buka praktek sendiri di rumah.
Setelah beberapa pasien di biopsi kini giliran saya. Setelah
masuk, saya langsung disuruh berbaring miring ke kiri, karena letak benjolan
saya di leher sebelah kanan. Setelah membaca basmalah, Dokter menyuntikkan jarum
dan menyedot cairan di benjolan saya. Suntikan yang digunakan lebih besar
ukurannya dari jarum suntik. Benjolan di leher saya mendapat 3 suntikan, dan di
kepala saya sekali suntikan. Tapi yang nano nano banget rasanya itu adalah
suntikan di kepala. Kereeen banget rasanya. Hiks hiks hiks.
Setelah selesai saya masih harus menunggu lagi untuk mengetahui
hasil biopsi. Setelah menunggu selama lebih dari setengah jam, perawat yang
membantu para pasien dalam pengambilan sampel biopsi mengumumkan kalau hasil biopsi
akan di beritahukan dan di jelaskan oleh Dokter yang menangani kita di Poli
masing-masing. Ada yang di suruh kembali hari Selasa, ada yang di suruh kembali
hari Rabu. Kebetulan saya di suruh balik ke Poli Bedah pas hari Rabu. Saya pun
pulang dari RSUD.
Sejak pulang dari Rumah Sakit, saya kepikiran terus dengan
benjolan di leher saya. Apalagi setelah di biopsi benjolan semakin membengkak
dan meninggalkan rasa nyeri. Kira-kira saya kena penyakit apa. Berbahaya atau tidak.
Saya sampai tidak semangat ngapa-ngapain sejak itu. Apa mungkin saya kena tumor
atau kanker. Aish, pikiran saya kacau banget.
Hari rabu telah tiba. Selepas shubuh sekitar jam lima pagi
saya sudah antri di loket RSUD. Jam tujuh lebih seperempat saya sudah antri di
depan Poli Bedah. Dan baru sekitar jam setengah sepuluh saya dipanggil masuk. Di
dalam poli bedah saya harus menunggu lagi. Saya rasanya pengen cepat-cepat
keluar dari ruangan itu. Saya gak tahan mendengar seorang bayi yang terus
terusan menangis. Pas masuk tadi aku lihat tangan nya di perban, usianya baru 4
bulan. Ada juga anak kecil yang teriak-teriak di atas kursi roda. Seorang ibu
yang ditawarin di bedah di jari tangannya untuk mengambil benjolan, namun tanpa
obat bius, karena obat bius spray nya lagi kosong. dan beberapa pasien lainnya dengan perban
masing-masing. Saya sepertinya sudah tidak kuat kalau harus menunggu lebih lama
lagi.
Akhirnya nama saya di panggil juga. Saya segera masuk
menghadap Dokter. Dokter dan Asisten yang sama yang dulu memeriksa saya. Setelah
dipersilahkan duduk, dokter langsung memberitahu saya hasil tes biopsi dan
mengabarkan kalau saya akan di rujuk ke Poli Paru. Hah? Poli Paru? Saya kan gak
batuk atau sesak nafas. Lagian apa hubungannya benjolan di leher dengan poli
paru. Dokter menangkap kebingungan saya dan menjelaskan kalau benjolan di leher
dan kepala saya di sebabkan oleh bakteri TBC. Jadi saya harus di rujuk ke Poli
Paru untuk mendapatkan pengobatan TBC kelenjar.
Perasaan saya saat itu, senang karena saya tidak harus
bertemu dengan jarum, benang jahit, pisau bedah ataupun perban. Syok, karena
saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya mengidap TBC dan bakal terapi obat TB
selama berbulan-bulan. Dokter kembali bertanya apakah saya ingin menyakan
sesuatu karena saya hanya diam saja dan terlihat syok dengan hasil biopsi. Saya
menggelengkan kepala, dan meminta dokter melakukan yang seharusnya dilakukan. Dokter
juga memberi saran agar saya segera memulai terapi obat, sebelum kuman TB nya
menyebar ke organ lain di dalam tubuh.
Oke segitu saja pengalaman saya ketika di vonis terkena TBC
kelenjar. Saya akan posting lagi pengalaman saya selama menjalani pengobatan
TB. Semoga bermanfaat.
Hai mba,skrg bagaimana kbrmu?bisa sharing ga?aku pun penderita tb kelenjar..hr ini sdh msk bln ke 15 aku minum oat..tp kadang badanku suka terasa pegal,terutama di pangkal paha dan telapak kaki..no.tlpku 087880808102 (via WA)..makasi bnyk mb
ReplyDeletemba boleh saya personal chat?
ReplyDeletehalo mbak tolong di buka notif blog nya
ReplyDeletehai mba,, klo sekarang keadaanya gimana mba stelah menjalani pengobatan tb ? krna sya juga sedang terapi obat tb
ReplyDeleteHi semua, maaf jarang buka blog. Saya Alhamdulillah sudah sembuh TB kelenjarnya. Pengobatan selama 6 bulan.
ReplyDeleteMbak... selama pengobatan 6 bulan obat yg merah diminum berapa bulan..? Dan obat yg kuningnya apa diminum setiap hari atau 1 minggu hanya 3 kali..?
ReplyDelete